scretch.info Gratis EBOOK MISTERI PASUKAN PANJI HITAM

EBOOK MISTERI PASUKAN PANJI HITAM

Sunday, May 5, 2019 admin Comments(0)

Ebook Zikir Akhir scretch.info - Free download Ebook, Handbook, akhir zaman pdf download; panji hitam pdf; misteri pasukan panji hitam pdf;. Free eBooks A little thank you, FreeeBooks. net is the internet's# 1 source for free Download ebook misteri pasukan panji hitam · Sinelnikov book stores near. zulkifli pdf; download gratis ebook ensiklopedi akhir zaman; panji hitam pdf; misteri pasukan panji hitam pdf; download kitab ensiklopedi.


Author:TRISH TENDICK
Language:English, Spanish, French
Country:Latvia
Genre:Art
Pages:646
Published (Last):24.12.2015
ISBN:841-3-45833-504-4
ePub File Size:24.47 MB
PDF File Size:12.82 MB
Distribution:Free* [*Sign up for free]
Downloads:32833
Uploaded by: SHARONDA

Misteri Pasukan Panji Hitam book. Read 3 reviews from the world's largest community for readers. Al-mahdi adalah tokoh islam yang agung pada penghujung s. Akhir Zaman, please sign up. Be the first to ask a question about Misteri Zikir Akhir Zaman . Misteri Pasukan Panji Hitam. Huru-Hara Kiamat. Kaki Tangan. + ebooks about the illuminati, new World order, bilderberg, CFR, Trilateral commission, bankin cartel, federal reserve, Rothschilds, royals.

Dia termasuk salah satu makhluk Allah yang ditangguhkan usianya hingga waktu tertentu. Selama masa persembunyiaannya, Dajjal terus menyusun rencana, strategi dan makar agar di hari kemunculannya Dia benar-benar dipertuhankan oleh manusia. Sangat mustahil jika keluarnya Dajjal di dunia yang hanya 40 hari —dengan tiba-tiba- dia menjadi pemimpin yang sangat ditaati, ditakuti dan dipuja banyak manusia. Tidak mungkin manusia akan tunduk dan takluk seketika —dengan sepenuh hati dan jiwa- pada sosok manusia yang sama sekali belum diketahui. Terlebih bahwa terminologi Dajjal selalu identik dengan keburukan, kejahatan, kebusukan dan lambang kerusakan.

Dajjal tersebut akan datang sambil membawa neraka dan surga. Surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga, dan ia memiliki sungai yang penuh dengan air, gunung dari roti. Ia kan menyuruh langit untuk merunkan hujan, mak hujan pun turun dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan beraneka macam tumbuhan maka tumbuhlah tanaman tersebut. Kemudian Nabi Isa bin Maryam turun. Dijelaskan bahwa kedatangan Al-Mahdi ini sebelum turunnya Nabi Isa as. Dari Ali bin Abi Tholib Ra ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat kubro adalah turnnya Nabi Isa as.

Beliau akan menjadi muslimin atau bagian dari umat Islam, menghancurkan salib dan menghancurkan berhala. Karena risalah yang beliau bawa adalah risalah yang bersumber dari Allah juga. Namun turunnya beliau bukan sebagai nabi lagi karena setelah diangkatnya Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir, maka tidak ada lagi nabi yang turun ke bumi dengan membawa risalah dari langit.

Semua keteragan itu kita dapatkan dari hadits-hatis Rasulullah yang sampai kepada kita, antara lain:. Thabrani dalam Al-Awsath dan Bazzar. Hmm… Dunia Ahmad Nizam Sep 08, Wahai Hizbut Tahrir, terima kasih banyak atas video tu, amat bagus tu sebagai pencelik mata kita semua agar tidak leka sangat dalam dunia ni. Diharap akan makin ramai orang tengok video3 sebegini. Sebar2kan lah kepada sesiapa setakat yang mampu yer.

Dr Dennis Walker Nov 24, Catatan Lapangan. Sejak April , Thailand Selatan Kesultanan Muslim Patani di masa yang lalu selalu bergolak akibat serangan pemberontak Muslim terhadap kekuatan bersenjata dan institusi-institusi pemerintah Thailand, dan juga serangan balasan yang dilancarkan pemerintah kepada mereka. Hal itu bagaimanapun dapat menjadi jelas apabila kita meninjau kembali bahwa didalam dekad tahun2 an Sistim Pemerintahan Thai tidak sepenuhnya belajar kepada beberapa pelajaran: Sistem Thailand pada period yang lebih liberal, di mana politisi sipil Thai lebih dominan daripada tentara, telah memberikan pendidikan secara massal dan modern kepada banyak warga Patani.

Perlu ditegaskan ini bukan pendidikan yang didesain untuk meninggalkan bahasa Melayu berwujud di-Patani dalam jangka panjang. Sebagaian orang Melayu dan Buddha menjadi kolega [rakan se-kerja] yang saling membangun. Orang-orang Patani moderat dan orang-orang Thailand moderat ingin mengamankan pencapaian2 ini dari gangguan kekerasan, para nasionalis ekstrem pemberontak, dan beberapa institusi pemerintah Thailand yang nationalist dan extrem juga.

Kelompok Liberal dari kalangan Buddha melangkah maju ke arah perdamaian dengan Patani untuk keluar dari konflik , menuju kerjasama dan menyatukan komunitas Thai secara lebih serius masa-masa ini daripada wuktu yang lalu.

Hotel Kota Patani mulai Mei Konferensi itu melibatkan lingkaran atas pimpinan agama Buddha dan Islam, serta pejabat pemerintah dan militer Thailand. Sebagai bagian dari kegiatan-kegiatan kerajaan Thailand, konferensi itu terlaksana di bawah pengawasan the World Council of Religions for Peace Majlis Agama-Agama untuk Chapaikan Perdamaian Dunia sebuah badan yang berafiliasi kepada PBB yang selama 40 tahun berupaya untuk memberikan bantuan guna menciptakan perdamaian di negara-negara yang dilanda konflik.

Peserta inti dalam konferensi itu melakukan launching sebuah badan Inter-Religious Council for Peace in Southern Thailand yang memiliki anggota 20 orang, dengan komposisi dua pertiganya adalah tokoh2 Agama Budha dan Islam dari Thailand Selatan. Umat Islam diwilayah itu mengalami kemiskinan dan pengangguran yang lebih tinggi daripada yang lain. Dan adanya arus-arus militan yang mengatasnamakan agama untuk mewajarkan diri, baik di kalangan Buddha maupun Muslim: Beberapa analis Barat mengaitkan kekerasan itu dengan ajaran agama terutama konsep Jihad di dalam Islam.

Satu isu penting dalam segi itu ialah, apakah forum konferensi ini dapat mendesak kalangan Islam dan Buddha untuk berbicara secara terus terang tentang tradisi agama mereka di Thailand, suatu hal yang dapat mengantarkan mereka keluar dari nasionalisme sempit dan kebencian antara satu pihak dengan yang lain.

Selama berabad-abad, Sistem Thailand pecahan-pecahkan benang-benang dari Agama Buddha yang kemudian di-bentukkan sebagai wacana kesatuan yang memberikan justifikasi terhadap penaklukan-penaklukan dan kekuasaan tentera diatas kaum-kaum yang lain. Akan tetapi, kitab-kitab suci agama Buddha dapat menjadi perkakas yang bagus bagi analisis psikologis yang dapat memberikan kritik terhadap nasionalisme etnis.

Agamawan Budha Phrakru Srijariyaporn mendedahkan ilusi konflik di forum tersebut: Ia dapat membidik gambaran psikologis kelompok-kelompok yang terlibat konflik di Thailand Selatan. Agama Buddha dapat mendorongnya keluar dari situasi kelompok yang merupakan asal-usulnya. Posisi ini sebenarnya dapat melemahkan potensi agamawan Budha yang tidak berpihak sebagai mediator konflik. Dalam tulisannya dalam bahasa Arab dan Melayu, dia berargumen bahwa Islam Klasik mengijinkan hubungan kerjasama antara Muslim dengan pemeluk agama Budha atau yang lain, kendati motif teks2 suci dan generasi pertama Islam yang di-petikkan oleh dia tidak cukup menunjukkan adanya bukti yang valid dalam membangun kebangsaan dengan penganut Buddha dalam satu kesatuan Negara yang benar-benar terintegrasi, didalam sejarah Islam.

Mengembangkan proses perdamaian di Thailand Selatan sesuai dengan prinsip perdamaian yang Islam menuntut keterlibatan semua aspek kehidupan.

Panji ebook misteri hitam pasukan

Kitab2 Suci agama2 yang lain juga berpendirian seperti itu. Muhammad diutus sebagai nabi bukan hanya untuk umat Islam akan tetapi untuk semua manusia, yang semuanya adalah seperti anak-anak untuk Allah. Muslim yang menolak untuk berbicara dengan pemeluk agama lain berarti telah berdosa sebab mereka juga di-khalqkan oleh Tuhan. Apakah ia terbawa emosi ataukah terteror seperti semua faction2 yang ada di Thailand Selatan?

Ketika saya berbicara dengannya saat ia hendak meninggalkan tempat acara, itu memperlihatkan bahwa dia adalah sosok yang sangat cerdas, kuat dan dingin intelegensinya, dan dengan mudah dapat menangkap hubungan politis-nya dengan saya sebagai seorang peneliti Barat yang sedang menulis satu buku tentang masalah bahasa dan identitas di negaranya.

Dia amat cerdas sebagaimana terlihat sebelumnya. Ia mengesampingkan explikasi biasa dari konflik itu. Agama tidak menyebabkan penderitaan di Patani akan tetapi diskriminasi dan pemisahan orang Islam oleh sistem Thailand dan di masyarakat Thailand yang telah terpecah: Umat Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk Islam, kerana Islam mengajarkan agar menghormati pemeluk agama lain. Umat Islam dahulu tidak pernah memiliki persoalan dengan agama lain dalam hal cara hidup.

Pada akhirnya, Ali mengakui bahwa para pemberontak pada titik tetentu berhasil menciptakan konflik agama antara Muslim dan tetangganya yang beragama Buddha. Mereka berusaha menggunakan ajaran agama untuk menjustifikasi aksi-aksi kekerasan mereka. Pada titik ini mereka menyamai organisasi-organsasi di Irlandia yang membawa agama untuk menjustifikasi kejahatan politik antara penganut Katolik dan Protestan.

Ismail Ali menghalangkan mereka dengan gagasan-gagasan Kristen atau Teosofi: Mereka tidak lagi mencari barangkali tidak lagi diizinkan untuk mencari bantuan dana dari Negara Arab guna membangun dan memperluaskan institusi2 mereka. Fakultas Kajian2 Islam yang mereka dirikan di Universiti Prince of Songkla dan Universii Islam baru Yala, dan pencarian beberapa wacana untuk masuk dalam Sistem Thailand daripada membuang-buang waktu untuk melawan Kerajaan itu, merupakan projek yang besar.

Di beberapa sekolah agama yang diawasi dan dibiayai pemerintah, anak-anak berumur sepuluhan tahun memperoleh pelajaran bahwa Tuhan menginginkan agar mereka menempuh jalan Jihad. Ajaran seperti itu akan mengurangi tindak kejahatan. Udomsak menunjukkan pikiran analitis yang sangat fleksibel: Watak konflik yang rumit telah mengganggu katagori-katagori pikirannya. Ia tahu bahwa agama yaitu Islam telah menjadi tempat berkumpul rallying—point di mana para pemberontak telah membawanya ke dalam konflik Selatan untuk menciptakan kebencian.

Banyak penganut Buddha di Thailand lebih siap menyatakan bahwa Islam dalam bentuknya seperti di Timur Tengah dapat mendorong pemberontakan di Patani daripada mengakui identiti dan sejarah orang Melayu Patani yang khusuus. Bagi Udomsok sebagai orang Buddha Thai, pemberontakan tahun bukanlah didorong oleh impian menghidupkan kembali Kesultanan Patani Raya yang merdeka, yaitu kerajaan yang pernah dibasmikan Thailand pada pergantian menuju abad Konflik sesungguhnya berasal dari persoalan yang juga terjadi di propinsi lain di Thailand yaitu meliputi distribusi Negara atas kekayaan dan keterbelakangan yang berlangsung hingga bertahun-tahun didalam Selatan.

Kondisi ini misalnya terjadi di kawasan Timur Laut Thailand dimana berduduk Isan yang bercakap di-bahasa Lao: Sebuah perasaan bahwa mereka mengalami diskriminasi, menjadikan sebagian orang Patani mengangkat senjata untuk melawan demi keadilan, sebagaimana yang lihat Letnan Jenderal Udomsak Thamsarorach itu. Kata dia bahwa semua staf dalam angkatan bersenjata Thai ingin menemukan solusi melalui cara-cara yang damai: Letnan Jenderal Udomsak Thamsarorach dalam hal ini percaya bahwa sebuah sumber pokok dari kebencian adalah kekerasan yang dilakukan oleh tentara dan polisi Thailand di-atas orang Islam.

Tentara harus dapat membuat kerjasama yang kongkret dengan para penduduk biasa yang masih membisu, dengan jalan mengenakan kontrol yang tegas terhadap tentara dan orang-orang pemerintah.

Mereka berupaya menciptakan aktor dan faktor sebanyak mungkin. Negara Thailand tidak mudah mengkonter distorsi2 ajaran2 agama semacam ini. Pemerintah Thailand dan organisasi yang berkaitan denganya seharusnya memperkuat produksi literatur2 dari agamawan Muslim yang kooperatif agar teks-teks keislaman ini dapat memberikan justifikasi terhadap kedaulatan Negara Thailand. Akan tetapi, banyak penduduk di daerah pedalaman desa tidak dapat membaca, sehingga meskipun berbagai booklet itu didistribusikan kepada rakyat jelita di bawah di kampung2, dan itu sangat sulit dilakukan, hal itu mumkin tetap akan gagal untuk meyakinkan kepada audience yang dituju mengenai ajaran Islam yang benar yang mensyaratkan Muslim menerima pemerintahan.

Kaji selidiknya yang umum menunjukkan bahwa tentara Thailand tahun ini perangkan melawan gerakan nasionalis Melayu Islam sebagai suatu yang mencengangkan —- mereka tidak faham musuh Muslim mereka. Siripong Hudsiri berupaya mendeligitimasi kelompok pemberontak sebagai kelompok yang sangat kecil. Rakyat biasa mendengar bom dan desingan peluru setiap hari, akan tetapi semua itu sesungguhnya bukan suara mereka, akan tetapi suara segelintir orang saja. Tetapi, Siripong juga mengambil kesimpulan bahwa rakyat yang para pemberontak bergerak diantaranya juga semakin marah dengan kemiskinan mereka dan rendahnya tingat pendidikan di-Selatan: Sebagian dari otaknya mengetahui bahwa sekelompok dari penduduk petani yang telah di-targetkan tengah ditarik untuk solusi yang menawarkan kaum mujahid itu, yaitu untuk membangun lain kali komunitas Muslim yang humanis dan positif dan juga untuk melawan kekufuran.

Masyarakat perkampungan telah mengalami perpecahan. Para pemuda mulai meninggalkan agama dan menjadi penagih dadah2.

Orang tua yang khawatir dengan kondisi tersebut menginginkan semacam institusi masyarakat yang menyatukan kembali komunitas Islam dan masyarakat tradisional.

Pemerintah Thailand tidak mampu menghadapi persoalan2 tersebut secara efektif. Hal ini menyisakan kekosongan bagi kelompok lain untuk maju ke depan, Siripong menilai. Karena itulah, beberapa orang tua dapat menerima para pemberontak yang menawarkan pembangunan kembali komunitas social keagamaan.

Tetapi, momen yang paling istimewa adalah ketika seorang Muslimah muda mengambil mikrofon. Saudaranya tengah pergi ke sekolah di motorkar ketika dua orang teroris yang mengendarai sepeda motor berhenti di belakangnya.

Sebuah motorkar besar melaju ke-depan dan menembakkan peluru motor sepeda: Jadi, usaha2 pemerintah untuk memburu para pemberontak harus memakan korban nyawa orang lain yang tidak bersalah. Pemudi yang biasa ini sudah kehilangan sekarang jumlah empat anggota keluarganya.

Berbagai penjelasan sosial dan ekonomi, yang sementara dapat dipandang benar didalam dirinya, dapat membantu orang-orang Buddha untuk menghindari berbagai ciri khusus kaum Melayu Patani yang harus diberi resources untuk berkembang di dalam Negara Thailand, jika orang Melayu secara sukarela menerima Negara Thailand. Sisi positifnya, konferensi untuk pembangunan perdamaian ini telah menawarkan penerjemahan berbagai cerama yang dibacakan dalam bahasa Thai itu ke dalam bahasa Melayu secara simultan.

Ini merupakan tindakan prakmatis dari Negara, untuk mencadangkan bahwa dia tidak musuh Bahasa Melayu. Akan tetapi dalam beberapa tahun barangkali proses menyesuaikan akan menjadi penerimaan yang tulus terhadap keaslian bahasa Melayu Patani yang dipakai Negara — penggunaan rasmi yang bahkan mungkin menghentikan konflik. Hal itu barangkali dapat mengurangi konflik secara signifikan.

Tuntutan ini oleh para pemuda terdidik yang diyakini dapat menjadi orang 2 nasionalis juga tidak muncul dalam diskusi kelompok kecil di-konferensi. Didalam kumpulan kecil satu yang saya duduk didalamnya, seorang biarawan Buddha mengemukakan se-pintas lalu bahwa sebagian orang di Selatan masih berbicara bahasa Melayu, dan barangkali bahasa tersebut seharusnya diajarkan sebagai mata pelajaran di lingungan satu sekolah Buddha yang lokal untuk membekali para biarawan di Selatan Thailand dalam melakukan dialog dengan Melayu Muslim tetangga mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah satu abad berupaya menggilas bahasa Melayu, menjadi kepentingan pemerintah Thailand sendiri dalam banyak hal untuk menawarkan hubungan patronase dan menfasilitasi bahasa Melayu dengan huruf Arab agar bahasa Thai dan bahasa Melayu Jawi tumbuh bersama-sama sebagai bahasa2 tercetak di era postmodern ini, dan masing-masing orang Melayu dan Budha justru dapat saling belajar dari yang lainnya. Penyelesaian kompromis untuk rekonsiliasi harus berhujung kepada dirikan penggunaan dua bahasa dalam sekolah-sekolah kerajaan dan berbagai departemen-departemen pemerintahan.

Hal itu bukan hanya akan berarti bahwa orang-orang Melayu diberikan kesempatan untuk belajar bahasa Melayu sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah negeri, akan tetapi juga murid-murid Budha di sana harus pula mempelajarinya sejajar dengan bahasa Thai untuk kepentingan penggunaan praktis dalam profesi2 sesudah menyelesaikan sekolah.

Patani sesudah proses rekonsiliasi akan menyerupai Quebec didalam federasi Canada: Bilingualisme penggunaan dua bahasa adalah suatu cara kehidupan yang radikal. Sikap lemah lembut, dan kemampuan untuk menyeberang batas-batas loyaliti2 pada unit-unit komunal, merupakan ciri khas Budha Thailand yang barangkali dapat berguna bagi mencapai kompromi perdamaian di Patani.

Akan tetapi, biarawan-biarawan Liberal barangkali terlalu yakin bahwa pengalaman masa lalu mereka sebagai mediator dalam upaya perdamaian cukup membantu perdamaian dengan orang Islam Patani yang sebenarnya sangat berbeda dari kelompok-kelompok pinggiran manapun yang pernah dibantu mereka untuk melakukan rekonsiliasi pada dekad-dekad sebelumnya.

Para agamawan Budha Liberal sangat bangga dengan peranan2 mereka sebagai mediator di Timur Laut Thailand yaitu di wilayah yang sangat miskin yang terisolasi dari Bangkok dalam waktu yang amat panjang.

Di sana, biarawan2 membantu menyelesaikan pertikaian antar klan lokal dalam persoalan air dan sumber daya alam yang lain. Akan tetapi, Suku Isan berbicara dalam suatu bentuk bahasa Lao yang sangat mirip dengan bahasa Thai, yang pemerintah Thailand telah mengganti tuturan lokal bahasa itu dalam beberapa dekad: Setelah ketegangan yang panjang, sistem Thailand dapat menggabungkan kaum Isan dengan baik dalam Negara mono-kultural yang mereka membangunkan, dan orang2 Isan menjadi anggota2 setia didalamnya.

Pada sisi yang lain, banyak agamawan Muslim yang bergabung dengan sistem Thailand membawa harapan2 terbatas dengan mereka. Akan tetapi ia tetap memberikan karakter kepada sistem Thailand sebagai sangat diskriminatif dan melakukan kesalahan terhadap orang Patani hingga sekarang. Ia berupaya memberikan shock terapi kepada orang Thailand liberal. Beberapa biarawan Budha, aparat pemerintah Thailand, dan militer memahami bahwa beberapa perubahan harus dilakukan.

Ini adalah segi positif dari konferensi itu yang menurut ukuran Thailand amat radikal. Akan tetapi, kita harus wait and see apakah mereka dapat menangkap persoalan secara utuh — isu penerimaan kepelbagaian agama dan bahasa, terutama untuk membuat beberapa perubahan segera sebelum Thailand Selatan mencapai satu titik tidak mungkin mengembalikan aman-damai kepada Thailand.

Kita minta supaya janganla kita ditemukan semasa Dajjal diturunkan kerana zaman tersebut adalah ujian yg amat berat kepada orang beriman. Sanggupkah saudara menghadapi ujian yg amat berat nanti. Dgn kemarau yg amat sangat dan bermacam-macam ujian lagi, jadi sama-samlah kita berdoa jika di datangani Dajjal nanti, keimanan kita kpd Allah tidak hilang. Ahmad Nizam Dis 03, Memang mereka biasanya akan mengaitkan perkara2 yang berkaitan dengan nabi2 , tentang Yahudi dan kristian. Youtube yg sungguh sadis.

An outcry to the ummah. Zam dah tengok? Memang menarik youtube tu. Saya pun pergi ke masjid dan solat bersama Rasulullah s. Selesai solat, Rasulullah s.

Nampak semacam bergurau Baginda tertawa dan berkata: Hendaklah semua duduk di atas sajadahnya. Rasulullah s. Aku ingin menceritakan kepada kamu bahawa Tamim Al-Dariy adalah seorang Nasrani, kemudian dia datang menjumpai aku dan masuk Islam. Dia ada bercerita kepadaku tentang satu kisah tentang Dajjal.

Kisah yang dia ceritakan itu sesuai dengan apa yang telah aku ceritakan kepada kamu sebelumnya. Katanya dia bersama 30 orang kawannya pergi ke laut dengan menaiki kapal. Angin kencang datang bertiup dan ombak besar membawa mereka ke tengah-tengah samudera yang luas. Mereka tidak dapat menghalakan kapalnya ke pantai sehingga terpaksa berada di atas laut selama satu bulan. Akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau menjelang terbenamnya matahari. Di pulau yang tidak ditempati orang itu mereka berjumpa dengan binatang yang sangat tebal bulunya sehingga tidak nampak mana jantina dan duburnya.

Mereka bertanya kepada binatang itu: Mereka tanya: Mereka pun pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh binatang itu. Di sana mereka menjumpai seorang lelaki yang sangat besar dan tegap.

Ertinya mereka tidak pernah melihat orang sebesar itu. Dari tangannya sampai ke tengkuknya dikuatkan dengan besi, begitu juga dari lututnya sampai ke telapak kakinya. Mereka bertanya: Sekarang aku pula ingin bertanya: Mereka menjawab: Kami pergi ke laut menaiki kapal, tiba-tiba datang ombak besar membawa kami ke tengah-tengah samudera luas dan kami berada di lautan selama satu bulan. Akhirnya kami terdampar di pulau yang tuan tempati ini. Kami tanya siapa dia katanya Al-Jassasah. Kami tanya apa maksudnya dia hanya menjawab: Itulah sebabnya kami datang ke tempat ini.

Sekarang kami sudah berjumpa dengan tuan dan kami ingin tahu siapa tuan sebenarnya. Mereka menjawab:. Setelah mereka menjawab bahawa pokok kurma itu berbuah, orang besar tadi berkata: Orang besar itu bertanya lagi: Akhirnya lelaki seperti raksaksa itu berkata: Orang besar itu berkata lagi: Nanti aku akan diberi izin keluar, lalu aku pun akan menjelajah dunia ini.

Dalam masa empat puluh malam sudah dapat aku jalani semua, kecuali Makkah dan Madinah yang aku tidak dapat memasukinya. Negeri Makkah dan Madinah dikawal oleh para Malaikat, maka aku tidak dapat menembusinya. Saudara-saudara sekalian apakah sudah aku sampaikan cerita ini kepada kamu?

Ceritanya itu bersesuaian dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kamu sebelumnya, iaitu tentang Makkah dan Madinah yang dikatakan tidak dapat dimasuki Dajjal. Cuma dia ada mengatakan di lautan Syam atau di laut Yaman.

Tidak, bahkan ia dari arah timur. Ada yang mengatakan bahawa Dajjal akan datang dari Khurasan atau Asfahan. ISBN 0 44 2]]. Bourgeois elements developed within, or engaged by, the NOI sought to weld a united African-American nation out of a range of classes. Outstanding second generation leaders—Warith Muhammad, Louis Farrakhan and Malcolm X—would further imbed Islam in Black America, and extend its relations into the international community.

Their media offered an informed and critical outlook on both domestic and international affairs that often paralleled progressive analysts. But it remains ambiguous whether the developing African-American nation will pursue its still-unfulfilled promise through secession, autonomy or long-term integration. To date, indigenous American Islam has been made a bogey by various white elites in order to regiment their own and other ethnic groups. Dennis Walker is a Celtic Australian specialist on Muslim minorities and author of two books on Islam and the national question.

He reads five Muslim languages, and is author of numerous scholarly papers, articles and reviews in a number of languages, reflecting his wide travels and areas of interest.

Walker has drawn a portrait of this movement that deserves the attention of scholars. I strongly recommend it to teachers and students studying or writing about Islam and the African American experience. Sulayman S. Dennis Walker is an exception to the rule…. Islam and the search for African American Nationhood is an extensive scholarly treasure trove of African, Arab and Islamic history.

This timely study on Islam and the African American movement and its leaders is worthy reading, yet goes beyond the expansion of the African American experience and its search for Nationhood.

Syncretism or Dissimulation? Parliamentarism, U. Institutions Southern Background and Regionalism U. Prisons 4: Could the U.

Systemic Disintegrate? Pan-Islam The U. Warith Mohamed — Steadfast U. In the economic sphere, Elijah Muhammad founded an empire of interlocking Black Muslim small businesses and farms.

It was a black co-operative capitalism with Islamic emblems. Warith made serious efforts to bring his sect into the mainstream of American life, urging his followers to vote in U.

The rise of oil prices from onwards, however, gradually sank the U. Despite two tough decades, Warith carried ahead his efforts to build up an Islamic private enterprise around his sect. By the 21st century, the Muslim followers of Warith were present in considerable numbers at all levels of government, and his adherent Keith Ellison became the first Muslim to win a seat in the U.

Warith did carry through to completion the great project of his father Elijah Muhammad — the fusion of an atomized ill-treated people into a disciplined and hopeful community. Some moderate stances of Warith were indeed embarrassing, but his critics missed that deeper steadfastness that held beneath the changes of Black Muslim ideology that Warith innovated to meet the transformations in Black conditions and life.

It was not exactly true that W. Mohamed betrayed the nationalist project or militancy of his father by seeking a single American community with whites. It was untrue that as he sought more integration and American citizenship for his followers, Warith became lukewarm towards the Arabs and Africans. The atmosphere in his sect was rather pluralist. Pan-Islamists for whom Palestine was important could write and print.

The young Arabic scholars among his followers today study Islamic law in the original in Syrian and Egyptian universities. The tragedy was that the U. America the has never made a just estimate of the contribution the Black Muslims one day could make to building friendship reconciliation and peace between Americans and the Arabs and the Muslim World.

To his death, Warith continued to call for the full national independence of the Palestinians from Occupation as a pre-condition for a peace settlement between the Arabs and Israel. Dr Dennis Walker Feb 09, Some of the Christians were uneasy that an independent Eritrea might come under the influence of the Muslim states of the Arab League that might want to use it as one means to cut off the Red Sea to Israel.

Eritrea had developed a parliamentary system of political parties very likely to prove incompatible with the regime of feudal despotism obtaining in Ethiopia, and which invested Haile Selassie with absolute powers. Haile Selassie therefore used his armed forces, which the British had allowed him to import into Eritrea before their withdrawal, to suppress the promising experiment of Eritrean parliamentary democracy.

Large numbers of Christian Amharas were settled in the strategic commercial ports of Eritrea as a long-term strategy to reduce Eritreans to a numerical minority in their own land. As is common, a symbolic act of oppression touched off a popular explosion that was the inevitable result of a long chain of injustices.

In the Ethiopian Government took down the flag and national emblems of Eritrea in violation of article 21 of the Eritrean constitution. Those political groupings which had lukewarmly supported federation and were still permitted to function at once showered the Emperor and the United Nations with cables of protest. Haile Selassie responded with sweeping arrests of all liberal elements.

Four hundred of them were sentenced to prison without trial. Advocate Muhammad Timar Qadi who was delegated to hand over the complaint of the Eritreans to the UN was jailed for ten years by a kangaroo Ethiopian court set up in Eritrea. This had fostered the emergence of a Christian Eritrean resistance to Selassie and the Ethiopians that would shortly attach to the armed insurgency that Muslim Eritrean elements now wanted to unleash.

Waldermariam was to broadcast from Cairo against the Selassie regime for some years. Idris Muhammad Adam on the other hand was to lead the new militancy of Eritreans. On September 1 , the formation of the Eritrean Liberation Front was announced, and a revolution for Eritrean independence proclaimed. Adam was elected as President and external spokesman of the Front. Fighting broke out immediately. The polarization of forces above Eritrean soil was now complete.

Eritrea had become an obvious Ethiopian colony. On one side stood the forces of alien Ethiopian occupation, on the other the native inhabitants among whom Haile Selassie now lacked any foothold of support, even among the Christian minority, among which some originally had tepidly opted to give federation with his state a try.

On 14 November the puppet Eritrean parliament declared the final incorporation of Eritrea into Ethiopia. Ethiopia succeeded remarkably in isolating the Eritrean Liberation Front diplomatically in Africa through the pre-eminent role it was playing in the Addis Ababa-based Organization of African Unity.

Civilian loss of life and the destruction of property was extensive but the outside world heard nothing of the attacks. One symptom of the human suffering in Eritrea resultant from indiscriminate Ethiopian reprisals against the people was the influx of refugees from Eritrea into neighboring Sudan. The report of Mr S. He found one group of some 19, all situated on a huge plateau of baked sand, surrounded by the Taka mountains.

I have the statistics given by the Sudanese Government which now claims that there are 23, in six centers, of which I saw the largest and smallest. The brutality that was producing those destitute exiles, though, failed to improve the fortunes of the Ethiopian army on the battle field. By , transport and traveling had become unsafe, save with a heavy Ethiopian army escort outside the major cities of Eritrea.

Smaller towns were often taken over for considerable periods by Eritrean Liberation Forces, as was the case with the city of Keren in November in which the rebels publicly executed — in broad daylight — Waldai and Abdul Kader, two agents of the occupation forces.

At the time when Jamison was visiting the refugee camps in the Sudan, the home province of the refugees, Akle Guzai, was witnessing a run of defeats inflicted by the Front on the Ethiopian forces. Neutral observers, like American journalist Jack Kramer, visited places where the Eritrean Liberation Army seemed in control. Without considerable support from some important world powers, Haile Selassie would probably have found it impossible to carry on the fighting in Eritrea.

Despite such economic interest or political calculation of some foreign governments, world pressures were sure to grow, especially from the Arab and Islamic World, for the Eritreans themselves to determine their own future free of external compulsion. This was only natural in view of the religious, cultural and linguistic bonds that bound them to the Eritrean people.

When Haile Selassie trampled down the international commitments of his government, the problem once more devolved on the international community and the United Nations. However, all the states concerned chose to turn their backs except the Muslim countries. This self-interest of the Sudan state temporarily prevented the flow of aid to the major areas of Eritrean guerrilla activity. In late , however, Abbud was felled by the disgruntled working and professional classes of Khartoum and a succession of weak Sudanese civilian administrations followed amid a tide of popular Sudanese enthusiasm for Muslim and African liberation movements.

The Arab states were increasingly considering if they should now send guns to Eritrea. From 26 December to 2 January the World Islamic Conference representing 33 Muslim states was held in Mogadishu, capital of the Somali republic, a hot bed of activity for Eritrean exiles and by an information office set up by the Liberation Front. Among Conference Resolutions —. The Conference appeals to world conscience, the UN Organization and international humanitarian institutions to intervene at once to halt these hideous acts of butchery that deface the countenance of humanity in this age of the United Nations and the rights of man.

Despite the ritual appeals to the good offices of the Organization of African Unity, included at the insistence of some African Arab states anxious to avoid an armed confrontation which would lead to the diplomatic weight of Ethiopia being thrown to the side of Israel in African councils, the conference resolutions were an international gain for the Eritrean struggle for independence. The resolutions were repeated with barely changed language at subsequent Islamic conferences and provided the ideological framework for the massive — and public — intervention of Syria to the side of the rebels, which began from this time.

The Conference also demanded an inquiry into the persecution of Muslims in Ethiopia proper. Now the stakes had been raised by a dangerous, but inevitable, internationalization that for the first time involved the Arab and Islamic States militarily as well as morally as a direct factor in the bloody struggle. And as the Ethiopian Government was driven by successive military defeats in Eritrea into ever closer dependence on the great powers supporting her occupation there, it became the strategy of the Eritrean National Liberation Front to widen his internationalization of the spreading conflict.

In particular the Front was eager to involve, in a concrete material way, those Islamic states that had regularly expressed international positions of solidarity with oppressed Muslim peoples. And hence, also, the bombing attack by three Eritrean youths on an Ethiopian airways aeroplane at Karachi: The Yahya Khan government had no choice but to impose a press blackout for the while on ELF spokesmen passing through Pakistan at the time. This, though, was temporary: From the point of view of the most radical sub-Saharan Muslims orientated to insurgency, this strategy was a logical device to counter the Western commitment to client African governments they charged were hostile to Muslim culture and interests.

However, most Arab governments were far from eager to move even against African governments that became allies of Israel.

Such politics-targeted views ignored, or were attempts to obscure, the reality of increasingly profitable trans-African trade that, more than pan-Islamic sympathies or expensive ambitions to expand, guided most Arab states in their dealings with sub-Saharan African governments in the s and s.

It did remain true, however, that popular feeling in the Arab countries at some point might push their governments to militarily involve themselves in fighting in some African states if ill-treatment of Muslims there became glaring.

Some populations of the Eastern Sudan, for example, are linguistically and ethnically closely related to some lowlander Eritreans, and the influx of Muslim refugees from Eritrea with their tales of Ethiopian Christian atrocities more than once pushed the Sudan and Ethiopia to the brink of armed confrontation. Israel established her military presence with remarkable speed. A center for training in counter-insurgency warfare at Decemhare, staffed by Israeli regular army instructors, had by graduated 5, Ethiopian commandos to be used against the uprisings of Muslim tribesmen in Eritrea and in the Somali areas in the Ogaden.

Israeli experts assembled for the Ethiopian army some guided incendiary missiles with a range of 70 kilometers that could burn to cinders extensive areas, and were thus highly suitable for wiping out dispersing guerillas and for reprisals against refractory civilian populations. The Israelis also had had a base at the airport of the town of Akordat.

Thousands of acres of the best farmland of Eritrea were turned over to Israelis for the establishment of agricultural colonies and estates to produce cash crops, in the usual pattern of a colonial economy. In return for cheap primary products exported, poverty-stricken Ethiopia was importing expensive Israeli manufactures. But the induction of Eritrea as a periphery into that economy was in part motivated by political reasons.

In response, the Eritrean independence fighters saw Israel as a racist Western settler state that was the common enemy of both the Arab and the Eritrean peoples. There was thus a sense of shared struggle with the Palestinian guerillas led by al-Fatah.

True, most of the Muslim rebels had indeed learned to read Arabic in the mosques of their adolescence]. The outbreak of fighting between the subjected Eritreans and the Ethiopians was inevitable given the much greater acculturation to Western parliamentarist and socialist ideas and political activism that the Eritreans underwent under the Italians and British.

Islam and Arabic also had a centrality in Eritrean life and identifications that they could not have in an Ethiopia whose populations, although mixed, the ruling Amhara minority regimented and made passive. Frank Brooks, a student at Melbourne University, Australia, returned from Ethiopia after studying there during An article by him characterized the poverty-stricken, feudal and regimented society of Ethiopia based on the impressions he had gained during residence and extensive travel in that country.

The concern of the Emperor about the enormous economic burden of national illiteracy was checked by the wariness of his Amhara elite of any expansion of education that might loosen their political grip over Ethiopians in general.

Education in the application of modern techniques to traditional agriculture was needed for general economic expansion within the country. Extension of education and health services will hopefully bring about an improvement in the expectation of life, which at present is still only 35 years.

A National Literacy Campaign established under the patronage of His Imperial Majesty illustrated the inability of the Government to roll back illiteracy. Each year , children struggle for the opportunity to gain one of , places available in the first grade of primary school, and at the age of 14 1.

An optimistic projection of school enrolment up to expects only 8. The number of illiterates in Ethiopia increases each year by , as only one student in five stays at school long enough to become permanently literate. Brooks found that at Haile Selassie I University in Addis Ababa the more radical students tended to be careful about commenting on internal political affairs. However, their opinions on international issues [reflected] a profound reaction against the veritable neo-colonialism of the mind practised by the Government and the foreign information services such as that of the USA.

But the monarchical-feudalist system was highly political in that it did mobilize much of the ascendant Amhara nationality as the instrument to order and regiment the general population in a system of apex-to-base authoritarian rule. From earliest childhood, the socialization of Amhara children was designed to systematically cultivate obedience as their central trait.

Amhara children were early taught to be inconspicuous and respectful and to respond readily to any parental commands. During meal-times, Amhara children are expected to stand quietly, facing the wall, while their elders are eating: Towards and throughout their adolescence, Amhara children internalized hierarchical authority and developed it on their own account. Amhara students in government boarding schools, although separated from their families, further carried forward this traditional hierarchical orientation.

The Ethiopian polity in the s, s and s did order life according to highly political values in that the wielding of authority from above was pervasive in social relationships. The rejection of the hierarchical Ethiopian state by the secessionist Eritreans had to be crushed because, if it came to pass, the other non-Amhara nationalities in Ethiopia proper — although starved by the state of education and thus with limited awareness — would themselves rise up against the Amhara strata and overthrow the whole system, which was to happen in the s.

At the same point, tensions developed within the ELF amid calls for reforms from the increasing numbers of educated guerilla fighters recruited in the Christian highlands and in Muslim lowland towns. Ethiopian dictator Mengistu Waldemariam had followed his military coup with a campaign of terror in Asmara, in which Ethiopian troops strangled much of the intelligentsia with piano wires.

Travelling state-run circuses offered performances by female acrobats designed to impress upon illiterate Muslim women that the new state was now making possible for them a wider range of roles than they could have had under the constrictions of a traditionalism that had validated itself with Islam.

Positive social reforms, though, were vitiated in the eyes of many Eritrean Muslims by perceived autocratic Stalinist-like tendencies in Afewerki, and his incapacity to relate himself constructively to literary Arabic, Muslim mores and to the Arab states with which devastated Eritrea badly needed to have wide relations.

In accordance with the U.

Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka by Abu Fatiah al-Adnani

Although Muslims and Christians have been given almost equal ratios in ministerial appointments since independence, literary Arabic was not given the scope that most Muslims desired for it in education and the bureaus of state and in public life, since the EPLF regime imposed Tigrinian as the governmental literary language for lowlander Muslims as well as the Christian highlanders whose native speech it was.

During the period of its leadership of the independence struggle, the EPLF had alternated Arabic and Tigrinian sentences in its training manuals and classes, but after dropped that fusion that helped it court Muslims for induction into its war-effort.

Educated Muslims were bemused by a new state language in another alphabet that in its break-neck development had to incorporate floods of English words to cover modern concepts that Arabic had conveyed from its own resources for decades. It was disconcerting for many Eritrean Muslims that Afewerki reopened political, economic and probably military relations with the Israel state that had helped Ethiopia kill so many in previous years.

He was demanding that his Muslim ministers develop relations with the states in the Arab League, but at the same time was pursuing an unpopular connection with the Zionist state that the Arab states were bound to regard as a sign of suspicion or hostility to them.

Muslim Eritreans wondered if some of the novel roles the new system offered their women might not really be a return of hierarchical sectarian-cum-ethnic exploitation. The regime conscripted female as well as male Muslims into the armed forces for recurring clashes with Ethiopia that some Muslims assessed he caused with his own gung-ho stubbornness or as a political diversion.

Such female Muslim conscripts could come home pregnant by Tigrinian officers to become unmarried mothers. Muslim Eritrean refugees in Australia in regarded the Afewerki regime as only going through the motions of repatriating refugees in the Sudan and elsewhere because most of those had been Muslims Ethiopia hit in the lowlands, and keeping them outside created a parity between the numbers of Muslims and Christians in Eritrea.

The discontent burst out into insurrection and warfare by the Eritrean Islamic Jihad Front, in part mounted from the refugee camps in the Sudan — in turn triggering border clashes that brought Eritrea and the Sudan close to the point of war in However, most educated Muslim Eritreans have a sense of community with their Christian compatriots that does not favor fighting them: Sedangkan petanda itu telah ada, cuma mereka mengaburi mata kita agar kita tidak yakin bahawa syaitan dan iblis itu wujud di sekeliling kita.

Apa yang mereka harap kewujudan kepercayaan manusia terhadap alam semata2, tadak ada Tuhan ……tidak ada malaikat, tidak ada jin, tidak ada alam ghaib, tidak ada ujian keimanan, tidak ada syaitan dan iblis, yang ada cuma kita dan mereka harap manusia berfikiran jauh dari ajaran agama…….

Kerana itulah janji iblis laknatullah itu kepada Allah…….. Supaya manusia memperjuangkan nafsu sepanjang hidupnya dan lupa janjinya kepada Tuhannya. Sedangkan 2 alam lagi sedang menunggu kita iaitu alah barzakh dan alam akhirat. Jika begitu maksud saudara maka tidak mengapa lah. Sebenarnya kita masih boleh berbincang dengan secara baik kan? Reno Pemuda harapan indonesia Apr 26, Sudara penulis,teruskan usaha menyampaiklan info2 terkini.. Ahmad Nizam Mei 02, Alhamdulillah, insyaAllah jika saya tidak sibuk sangat nanti akan mengarang lagi isu2 terkini berkenaan topik ini.

Assalamualaikum, Saudara ku Ahmad Nizam.. Saya bru slesai mengikuti diskusi anda dan rakan2 dgn Cosmo boy Inc.. Saya kagum dgn Istiqamah saudara dan rakan2 yg lain menjawab soalan2,telahan2,serangan2 yg diajukan mereka.. Seboleh2nya mereka mahu kita redha dgn anutan mereka tetapi mereka tidak mahu menerima kerasulan Junjungan kita..

Al-Quran itu diturunkan kpd umat Muhammad s.

Misteri Zikir Akhir Zaman

Nabi Muhammad s. Jd terpatahlah hujah2 umat terdahulu itu krn mereka merasakan setelah mereka mati,perihal mereka itu tidak diketahui oleh umat2 selepas mereka.. Jd bila diatas dunia ini,mereka2 itu mengejek-ngejek Nabi Kita,Kitab kita,jgnlah kita dukacita.. Kemenangan yg kita nk kejar nti adalah akhirat..

Ahmad Nizam Mei 20, Dan tawakkal kepada ALlah S. Sy sgt bimbang dgn keadaan umat Islam di Iraq.. Dikatakan umat Islam beraliran Sunni sedang teruk dikerjakan disana..

Bagaimana dgn pandangan saudara penulis akan hal ini? T melindungi saudara2 seagama kita disana.. Ahmad Nizam Jun 03, Yesus satu2nya Tuhan yg menjamin keslamatan umat manusia yg percaya kepadaNya,Agama kristenpun tidak dapat menyelamatkan tanpa percaya Yesus. Tuhan juga kalo dia mau inkarnasi sebagai burung atau hewan apa saja,siapa yg m larang ko Dia itu Tuhan berkuasa jdi wajarlah kalo dia mau jadi apa saja maunya.

Ahmad Nizam Jun 06, Yesus adalah Muslim sama seperti nabi2 lain. Muslim adalah sesiapa yang berserah diri pada Allah semata2 dan mengikuti perintah2Nya. Anda penuh dengan theory2 yang tidak ada bukti kuat. Anda belum mengenal inti dari Freemasons. Fakta-fakta sangat lemah, anda hanya mengkaitkan atau menyamakan fakta yang lemah dengan kebenaran. Freemasons adalah the brotherhood dimana setiap member menghormati member lain maupun dia lebih besar atau kecil dari pada anda.

Seorang member freemason menghormati orang lain di bandingkan dirinya, seperti seorang pemimpin yang bijaksana. Freemasons juga menerima orang-orang dari kalangan agama apa-pun. Yang penting anda pegang kepercayaan anda dengan tekun dan saling menghormati. Tolong stop pembodohan ini…Blog seperti anda-lah yang bikin per-pecahan di dunia ini.

Panji pasukan hitam misteri ebook

Dan setiap ada permasalahan, yang anda salahkan pasti selalu Illuminati, Amerika, Israel, Freemasons etc. Alangkah menyedihkan. Saya yakin anda bukannya degree 30 ke atas dalam Freemason kan? Semoga kamu beroleh petunjuk dari Allah S. Sangat setuju blog seperti di sini bikin perpecahan di dunia ini.

Harap pembaca muslim dapat menilai dengan lebih matang. Jangan terima bulat-bulat idea ahmad nizam. Thank you and No thank you. I do not want to waste my time talking about this rubish. I have many other things that could make a positive changes to the world. I hope you have something to do that could gives a positive contribution to the humanity and God instead of creating these false and non-sense theory.

Ahmad Nizam Jun 12, Ibaratnya mereka2 yang berkhidmat dalam Pasukan bantuan PBB, semua mereka berbuat kerja2 baik kebanyakannya.

Kaki Tangan Dajjal Mencengkeram Indonesia

Kalu diorang suruh makan taik mu ni makan jugoklah yer? Kita tidak boleh sesekali ikut pinsip musuh Islam jika kita berpegang teguh pada agama. Dengan sabda Rasulullah: Nampaknya di Malaysia ini sudah ada musuh dalam selimut ye. Dalam surat khabar utusan yang lepas seorang penghantar email sangat terkejut melihat bahawa ada kapal kontena milik Israel berlabuh di perairan negara ini, apa kejadahnya itu?

Tidak ada berita dari kerajaan terhadap perkara itu, jadi sampai bila hal2 yang mengejutkan ini mesti dirahsiakan dari pengetahuan rakyat.? Datang tidak dijemput. Keje ke blajar. Anda tau tak negara yang anda bela itu adalah negara pengganas, tidak berperi kemanusiaan?

Sedarlah ramai orang Islam dalam negara ini nekad sebulat suara mengutuk kekejaman Israel…. T ya Tuhanku, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang merupakan tempat penghidupanku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, jadikan kehidupan ini sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian itu sebagai tempat istirahat untukku dari setiap kejelekan dan murka Mu.

Terima kasih banyak2 akhi Kamarul kerana memberi respon masa ketiadaan ambe. Apakah akhirat perlu diperbaiki lagi? Bukankah akhirat itu tetap seadanya seperti yang telah ditentukan untuk manusia yang layak?

Doa siapakah itu? Ayat dari manakah itu? Soalan2 saya pada kamu melambak2 kamu tak jawab pada dialog2 yang lepas tu macam mana??

Nak larikan diri yaa? Sekarang mentang2 sudah lama saya tidak menyoal kamu, kamu ingat saya lupa ya pada soalan2 saya yang lepas pada kamu? Nak saya tanya balik kembali? Beginilah… Saya yakin blog saifulislam. Kata saifulislam, mencari siapa salah siapa benar tidak akan menyelesaikan keadaan antara muslim dengan kepercayaan lain non muslim terutamanya kristian. Apa yang penting menurutnya ialah mencari titik persamaan untuk kebaikan bersama.

Di blog yang lain turut bersetuju dialog harus menjurus kepada persamaan iaitu output. Ahmad Nizam Jun 13, Saya kasihan kepada anda wahai saudara. Saya kasihan kepada ahmad dedat yang hasil tulisannya sampah, dan tulisan anda seolah-olah mcm sytle ahmad dedat. Saya tidak mahu anda jadi mcm itu.

Carilah idea yang lebih baik, Allah pasti beri pahala kpd anda. Buatlah lebih baik dari cara saifulislam. Atau sama baik. Teruk sangat idea blog awak ini wahai ahmad nizam. Ada darah ahmad dedatkah di diri anda? Mentang2 nama ahmad? Kesian saya dengan ahmad dedat. Mungkin dia sekarang tidak berada di syurga? Saya tidak harus buat penghakiman. Salaam dan selamat sejahtera semua. Nabi Muhammad S. Ahmad Nizam Sep 23, Baca di sini http: Adolf Hitler: Aku berbual dengan seorang ahli keluarga yang sedang menamatkan tesis PhD beliau dan aku amat terperanjat apabila beliau nyatakan tesis beliau berkaitan Adolf Hitler, pemimpin Nazi.

Aku lalu menjawab bahawa Hitler seorang pembunuh yang membunuh secara berleluasa dan meletakkan German mengatasi segala-galanya…lalu dia bertanya dari mana sumber aku. Aku menjawab sumberku dari TV pastinya. Lalu dia berkata: Prinsip Hitler berkaitan Yahudi, Zionisme dan penubuhan negara Israel. Hitler telah melancarkan Holocaust untuk menghapuskan Yahudi kerana beranggapan Yahudi akan menjahanamkan dunia pada suatu hari nanti.

Prinsip Hitler berkaitan Islam. Hitler telah belajar sejarah kerajaan terdahulu dan umat yang lampau, dan beliau telah menyatakan bahawa ada tiga tamadun yang terkuat, iaitu Parsi, Rome dan Arab. Ketiga-tiga tamadun ini telah menguasai dunia satu ketika dulu dan Parsi serta Rome telah mengembangkan tamadun mereka hingga hari ini, manakala Arab pula lebih kepada persengketaan sesama mereka sahaja. Beliau melihat ini sebagai satu masalah kerana Arab akan merosakkan Tamadun Islam yang beliau telah lihat begitu hebat satu ketika dulu.

Atas rasa kagum beliau pada Tamadun Islam, beliau telah mencetak risalah berkaitan Islam dan diedarkan kepada tentera Nazi semasa perang, walaupun kepada tentera yang bukan Islam. Beliau juga telah meberi peluang kepada tentera German yang beragama Islam untuk menunaikan solat ketika masuk waktu di mana jua…bahkan tentera German pernah bersolat di dataran Berlin dan Hitler ketika itu mennggu sehingga mereka tamat solat jemaah untuk menyampaikan ucapan beliau….

Hitler juga sering bertemu dengan para Ulamak dan meminta pendapat mereka serta belajar dari mereka tentang agama dan kisah para sahabat dalam mentadbir…. Beliau juga meminta para Sheikh untuk mendampingi tentera beliau bagi mendoakan mereka yang bukan Islam dan memberi semangat kepada yang beragama Islam untuk membunuh Yahudi….

Semua maklumat ini ialah hasil kajian sejarah yang dilakukan oleh saudara aku untuk tesis PhD beliau dan beliau meminta aku tidak menokok tambah apa-apa supaya tidak menyusahkan beliau untuk membentangkannya nanti. Beliau tidak mahu aku campurkan bahan dari internet kerana aku bukan pakar bidang sejarah.

Tetapi gambar-gambar yang ada di sini sudah lama tersebar dan semua orang boleh melihatnya di internet. Pengaruh Al-Quran di dalam ucapan Hitler. Ketika tentera Nazi tiba di Moscow, Hitler berhajat menyampaikan ucapan. Dia memerintahkan penasihat-penasihatnya untuk mencari kata-kata pembukaan yang hebat tak kira dari kitab agama, kata-kata ahli falsafah ataupun dari bait syair.

Seorang sasterawan Iraq yang bermastautin di German mencadangkan ayat Al-Quran:. Hitler berasa kagum dengan ayat ini dan menggunakannya sebagai kalam pembukaan dan isi kandungan ucapan beliau. Memang para ahli tafsir menghuraikan bahawa ayat tersebut bermaksud kehebatan, kekuatan dan memberi maksud yang mendalam. Perkara ini dinyatakan oleh Hitler di dalam buku beliau Mein Kampf yang ditulis di dalam penjara bahawa banyak aspek tindakan beliau berdasarkan ayat Al-Quran, khususnya yang berkaitan tindakan beliau ke atas Yahudi….

Hitler telah memasukkan sumpah dengan nama Allah yang Maha Besar di dalam ikrar ketua tenteranya yang akan tamat belajar di akademi tentera German. Hitler telah enggan meminum beer arak pada ketika beliau gementar semasa keadaan German yang agak goyah dan bermasalah. Ya, Hitler tidak pernah menjamah arak sepanjang hayat beliau…minuman kebiasaan beliau ialah teh menggunakan uncang khas….

Bukanlah tujuan penulisan ini untuk membela apa yang dilakukan oleh Hitler, tetapi ianya bertujuan untuk menyingkap apa yang disembunyikan oleh pihak Barat. Semoga kita semua beroleh manfaat. Ahmad Nizam Jul 21, Tentang Adolf HItler di atas, sebaik2nya kita berhati2. Kita mesti tahu juga apa itu NAZI? Kerana Swastika itu berkaitan dengan penyembah matahari dan dewa-dewi dahulu kala. Nabi Isa a. Itulah pihak British dan sekutu2nya. Dan tahukah kamu agenda NASA itu macam mana?

Mengapa Nabi Muhammad S. Dan kami cuba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk agar mereka kembali kepada kebenaran. Assalamualaikum ahmad nizam.. Ahmad Nizam Jul 22, Saya pernah dengar lama dah dulu konon2nya HItler banyak buat baik seperti saudara cerita di atas.

Tetapi x ada sumber2 yang kuat boleh menegakkannya. Maka terpulang pada saudara2 semua nak percaya yang mana. Sedangkan Zionist hari ini menghentam Palestine semata2 iaitu umat Islam. Antara cita2 Hitler untuk memerintah dunia. Dan keturunan Rothschild itu memang berasal dari Jerman dan kemudian berpindah membuka bisnes di Amerika Syarikat. Tetapi Yahudi yang mana yang mereka bantai habis-habisan itu? Ben Sakner B Neri Nov 07, Mujahid Muda Jan 20, Walaupun semua sudah tau siapa antek antek dajjal, tapi kenapa kok tdk ada yang brani nglawan.

Surya Ramadhani Jan 29, Hamba Allah Feb 21, Ayu Apr 02, Mohon balasan.. Terima kasih…. Alfede Riskod Mei 13, Boleh buktikan kitab zabur dan yang lain-lain ada tokok tambah? Bolehkah Al Quran membuktikan adanya tokok tambahdalam ktab zabur dan yang lain-lain?

Coba nyatakan ayat dalam Quran yang menyatakan ayat mana yang ditokok tambah dan pembetulan yang dinyatakan dalam Quran untuk ayat yang ditoko tambah.. Kalau tidak dapat buktikan, penuduh itulah pembohong yang terbesar! Salma Alfarizy Mei 17, RAJI Jul 04, Sayuti Sulong Ogo 10, Nuraeni Ogo 23, The Wacther Sep 26, Ambi Putra Jan 25, Amos 5 5: Hari itu kegelapan, bukan terang!

Teks Sep 26, Allah mengutuk manusia yg mengingini hari kiamat itu, krn sesungguhnya hari itu adalah hari kegelapan, maka Allah akan melaknat umat-Nya yg untuk sekali2 menginginkan hari itu. Syumul dan Universal…. Arizho Nov 26, Apakah pendapat para saudara sekalian bila Antikristus itu datang memaksakan satu pemeliharaan agama ke seluruh dunia, di mana semua orang akan dipaksa untuk menurutinya atau hilang hak untuk berjual beli serta segala kemudahan di dunia?

Wahyu 13 Faiqah Lynda Feb 09, Interpretation of the quran Mei 22, I require an expert in this area to solve my problem. Having a look forward to look you. Construction Debris Jul 31, Hi, all the time i used to check webpage posts here early in the morning, since i enjoy to gain knowledge of more and more. Usually I do not learn post on blogs, but I wish to say that this write-up very pressured me to try and do it! Your writing style has been surprised me.

Thanks, very nice post. Okt 05, Dennis Walker Nov 06, In government-recognized Islamic schools, Malay adolescents in Southern Thailand are taught to read Jawi Malay in a fashion that does not provide accurate literacy in it — but does provide a basis for literacy. Standard literary Malay is a language without newspapers or magazines in Southern Thailand.

No lectures are given in standard literary Malay in any modern subjects at Prince of Songkla University Pattani City Campus , or at any other. Once on campuses, the students have to get through a never-ending conveyor belt of print-materials ion Thai, and increasingly English, so that their print-Malay fades away from lack of use or access.

Whether literary Malay will survive in Thailand will be decided by the young Malay students at the universities and colleges of Southern Thailand. Their basic social unit is the group of five students enrolled in the same subject who sit at tables in college libraries and try to help each other understand the terms and concepts of their subjects. The subjects are taught in Thai and English. This time-consuming process of group study could get transformed from a force that displaces, marginalizes, and excludes Malay into an enterprise that carries Malay forward with it alongside Thai and English.

Malay language clubs, perhaps just informal clubs not announced, can be formed that would distribute a Malay-Thai-English list of the vocabulary of each subject to the enrollees. The small groups of five students could then use the Malay equivalents side by side with the Thai terms in their study discussions. A point would come at which the students would then only use the Thai terms sometimes. Fenomena di atas jelas-jelas menggambarkan bahwa Dajjal telah melakukan penetrasi ideologi secara terus-menerus dan simultan selama berabad-abad.

Kaki tangan Dajjal terus bekerja selama ribuan tahun dengan gaya dan strategi yang memungkinkan manusia tidak lagi menolak Dajjal sebagai sosok pemimpin akhir zaman.

Kaki tangan Dajjal akan terus menebar jaring-jaring fitnahnya materialisme — atheisme — zionisme sehingga seluruh dunia tidak lagi berkutik melawannya. Tokoh-tokoh pemimpin dunia terus dimunculkan Dajjal untuk menggiring opini agar dunia tunduk di bawah keinginnnya.

Berbagai kebijakan internasional, sistem pengendalian dunia, dan tatanan negara dimanapun selalu dibawa untuk mendukung kebijakan sistem Dajjal ini. Sai Baba mungkin saja tertuduh sebagai Dajjal, atau hanya salah satu dajjal-dajjal pendusta yang dijanjikan.

Hitam ebook panji misteri pasukan

Apa yang ditawarkan oleh Sai Baba dari berbagai ritual dan ajarannya, itulah yang saat ini sedang mengepung umat Islam di Indonesia. Beragam ideologi sesat yang mengepung umat Islam menjelaskan adanya indikasi upaya sistematik kaki tangan Dajjal untuk menancapkan kuku kekuasaannya.

Berbagai paham dan ideologi yang menjadi perpanjangan Zionis-Yahudi terus ditebar. Tujuannya; agar seluruh manusia bersedia untuk menyambut Sang Dajjal jika hari yang dijanjikan telah tiba.